Jalur Titik Awal
Tepat sudah beberapa bulan, pekan hingga hari telah berlalu. Mungkin seperti itu jika dalam perhitunganku tidak melebihi. Jujur, selalu saja ada rasa yang mengganjal dalam pikiran dan hati. Apakah sudah tepat untuk memberikan lampu hijau padamu saat itu? Apakah sudah tidak akan ada lagi trauma seperti sebelum-sebelumnya?
Bukan seolah menyesali keputusan. Aku hanya begitu takut terlalu berharap banyak. Walaupun, selalu berusaha menekankan pada diri sendiri, bahwa serahkan semua pada Allah. Tersadar oleh kondisi yang terjadi. Aku mengaku keliru pada diri sendiri. Sebab pikiran sering mengkhianati apa yang ada di hati nurani.
Ada banyak titik temu dalam setiap waktu yang sudah berlalu. Segala tingkah laku pada dirimu saat berinteraksi. Semoga aku tidak salah dalam menilai terlalu jauh. Sebab, sudah banyak suara sumbang yang terdengar disekitar. Seolah mengusik keyakinan untuk melangkah maju.
Hal yang tak pernah terduga selama ini adalah tentang kejujuranmu. Sebagai perempuan, aku hargai karena kamu tidak menawarkan jalan ke dalam hubungan yang melanggar aturan Islam. Hanya saja, kadar timbangan persentase prinsip pada diriku sengaja dipertegas. Beginilah cara usaha dan ikhtiarku untuk bertahan menjaga interaksi.
Dalam diam, aku banyak mengamati serta mempelajari tentangmu, dari setiap sudut pandang yang berbeda-beda. Sejak awal, begitulah kira-kira agar aku dapat beradaptasi di sebuah tempat yang sangat baru. Begitu asing. Hingga, sampai pada titik dimana harus ada beberapa titik-titik tertentu pertemuan berlangsung.
Katanya, selangkah demi selangkah berjalan maju menuju titik temu. Mengurai segala perbedaan yang ada diantara kita. Mempersatukan persamaan agar tercipta visi dan misi yang akan direalisasikan. Kembali melangitkan segala doa terbaik untuk menerima kehendak serta ketetapan-Nya. Bukankah setiap hamba memang harus bin wajib seperti itu. Mengadukan segala prosesnya pada Tuhan.
Jadi, mau bagaimana selanjutnya? Apakah sudah tepat, tentang apa yang aku pahami sama dengan maksudmu? Benarkah? Semoga saja, diri tidak salah menerka maksud yang ada. Kembali lagi, diri hanya selalu berserah pada-Nya. Semoga, semua pilihan-pilihan hidup tentang segala hal dapat menghantarkan pada jalan kebaikan.
"semoga aku tidak salah dalam menilai terlalu jauh. Sebab sudah banyak suara sumbang yang terdengar disekitar." Bagian ini, Keren sekali. 👍👍
BalasHapusada jejak komentar ternyata dan baru cek sekarang.
Hapus