Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2023

Memori Perjalanan

Memilih untuk menapaki jalan yang berbeda itu memang sulit. Akan ada saja suara-suara sumbang yang terdengar. Entah itu sindiran, ejekan ataupun hinaan. Ah... sok suci kamu, anak kemarin sore juga, sok nasehati orang. Ah... lihat saja nanti, nggak bakal bertahan lama tuh pake kerudung. Hei... memang nggak panas apa, di tutup rapat kayak gitu, kayak lemper aja. Ini hanya beberapa kenangan yang masih terekam dalam ingatan. Mencari jati diri untuk merubah arah pandangan hidup itu butuh pengorbanan. Teman yang tak se-frekuensi akan meninggalkan satu persatu. Juga butuh perjuangan sebab keluar dari zona nyaman. Tak bisa lagi pilah-pilih suka-suka sebab sudah berprinsip. Jauh di dalam hati sedang bertanya pada diri sendiri kala itu. Apakah aku bahagia dengan keadaan ini? Ujian demi ujian seakan meluluhlantakkan pendirian. Rasanya ingin berbalik arah saja dan berhenti. Pikiran seni bermasa bodoh akan hidup terus menghantui. Masa itu membuat diri ini ada dalam kebimbangan.  Namun, jika ter...

Hargai Proses dan Nikmatilah

Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang memang ada-ada saja rasa ingin segera di tahap andal. Tahap yang kata sebagian orang adalah tahap memanen apa yang sudah ditanam. Namun, itu kesannya tidak menikmati. Tersebab dalam hal apa saja, selalu ada prosesnya. Misal, proses meminang mungkin ehh salah, maksudnya meminjam, pinjam dulu seratus. Ok baiklah abaikan, itu hanya misalnya yaa misalnya. Sejenak kita memang perlu merenung, bahwa se-instan-instannya sesuatu, apapun itu tetap tidak bisa kita pungkiri kalau ada tahapnya. Mau makan mie instan, ya ada prosesnya kawan, dimasak dulu, bahkan kalau tak ingin memasak yaa minimal dikunyah dulu baru bisa dimakan dicerna, ya kan, kita high five kalau sepakat, bagi mahram, jika tidak ya sudahlah, tetap jaga interaksi dong. Misal dalam hal belajar, tentu sebelum berada di kalimat "saya sudah tau, udah paham kok soal ginian". Maka kalimat yang muncul di awal ketika belum mengerti akan hal tersebut adalah "saya belum tau ini, aduh kok ...

Jalur Titik Awal

Tepat sudah beberapa bulan, pekan hingga hari telah berlalu. Mungkin seperti itu jika dalam perhitunganku tidak melebihi. Jujur, selalu saja ada rasa yang mengganjal dalam pikiran dan hati. Apakah sudah tepat untuk memberikan lampu hijau padamu saat itu? Apakah sudah tidak akan ada lagi trauma seperti sebelum-sebelumnya?  Bukan seolah menyesali keputusan. Aku hanya begitu takut terlalu berharap banyak. Walaupun, selalu berusaha menekankan pada diri sendiri, bahwa serahkan semua pada Allah. Tersadar oleh kondisi yang terjadi. Aku mengaku keliru pada diri sendiri. Sebab pikiran sering mengkhianati apa yang ada di hati nurani. Ada banyak titik temu dalam setiap waktu yang sudah berlalu. Segala tingkah laku pada dirimu saat berinteraksi. Semoga aku tidak salah dalam menilai terlalu jauh. Sebab, sudah banyak suara sumbang yang terdengar disekitar. Seolah mengusik keyakinan untuk melangkah maju. Hal yang tak pernah terduga selama ini adalah tentang kejujuranmu. Sebagai perempuan, aku har...

Titik Harapan

Sungguh, ia tak pernah berpikir sedikit pun untuk menjauh. Hanya saja sedang berusaha untuk menahan diri. Sebab ada banyak ketakutan serta keraguan yang seolah hadir menari-nari di depan mata. Sudah berulangkali menepis bahkan menghindari pikiran tersusupi. Namun, hasilnya tetap sama, ia hanya membuat jarak untuk menjaga agar semua berjalan sesuai aturan-Nya. Semoga tetap sama sampai akhirnya ada titik yang mempertemukan, bila tidak ya berlapang dada alias legowo. Cukuplah Allah sebagai tempat mengadukan segala hal yang sedang berlangsung. Berharap pun hanya kepada-Nya, semoga ia benar-benar melibatkan seluruh ketetapan hanya pada Allah semata. Bukankah ia wajib berpikir seperti itu agar terkendali. Pada akhirnya begitulah ia menyerahkan segala sesuatunya. Simpel dan sederhana tanpa banyak pretelan ini itu. Tentram lagi tenang, itulah yang dirapalkan setiap saat dalam bait-bait doa. Sebuah titik harapan hanya dititipkan pada-Nya.