Memori Perjalanan
Memilih untuk menapaki jalan yang berbeda itu memang sulit. Akan ada saja suara-suara sumbang yang terdengar. Entah itu sindiran, ejekan ataupun hinaan.
Ah... sok suci kamu, anak kemarin sore juga, sok nasehati orang. Ah... lihat saja nanti, nggak bakal bertahan lama tuh pake kerudung. Hei... memang nggak panas apa, di tutup rapat kayak gitu, kayak lemper aja. Ini hanya beberapa kenangan yang masih terekam dalam ingatan.
Mencari jati diri untuk merubah arah pandangan hidup itu butuh pengorbanan. Teman yang tak se-frekuensi akan meninggalkan satu persatu. Juga butuh perjuangan sebab keluar dari zona nyaman. Tak bisa lagi pilah-pilih suka-suka sebab sudah berprinsip.
Jauh di dalam hati sedang bertanya pada diri sendiri kala itu. Apakah aku bahagia dengan keadaan ini? Ujian demi ujian seakan meluluhlantakkan pendirian.
Rasanya ingin berbalik arah saja dan berhenti. Pikiran seni bermasa bodoh akan hidup terus menghantui. Masa itu membuat diri ini ada dalam kebimbangan.
Namun, jika teringat lagi akan masa-masa pergolakan batin saat itu. Rasanya aku sangat ingin mengatakan terimakasih karena sudah bertahan. Ya benar, berhijrah itu sangat membutuhkan proses.
Proses menyesuaikan diri dengan segala hal yang baru. Proses untuk hanya berusaha menyemangati diri agar bertahan. Begitu pula dengan istiqomah dalam berhijrah, butuh waktu.
Jika hari ini ditanya lagi, apakah aku bahagia? Dengan lantang ku ucapkan, ya aku sangat bahagia. Terimakasih untuk semuanya karena sudah memilih jalan ini.
Semangat wahai diri, teruslah menjadi pembelajar sejati dalam menapaki hidup. Istiqamahlah wahai diri agar terus bertahan sampai akhir.
Ingatlah selalu pada setiap niat di awal berhijrah. Bahwa di jalan dakwah itu semoga jadi berkah. Semoga lelah menjadi lillah. Hamasah, Hamasah, dan terus Hamasah!
Komentar
Posting Komentar