Batasan Korelasi

Setiap jemari ini menari untuk mengetik pesan-pesan agar tersampaikan. Membalas pesan yang sebenarnya tidak ada maksud mengarah kepada hal negatif. Tetapi selalu saja ada resah dan gelisah sebab seolah melakukan kesalahan. Sebenarnya terkadang hanya membalas pesan tentang sebuah pekerjaan, atau misal berdiskusi ringan akan sebuah ide dalam kepenulisan. Tidak ada yang aneh sebenarnya, hanya saling membalas pesan biasa. 

Namun, apa daya pikiran selalu bertaut dan seolah menghantui pada perasaan. Tersebab lagi ketika sudah saling mengetahui akan ada sebuah rasa antar keduanya. Namun lagi dan lagi apakah benar begitu atau hanya kesalahpahaman belaka? Terkadang tampilan senyuman itu hadir di sebuah titik temunya, candaan ringan, seolah rasa aman itu ada tapi tetap saja ini masih tak membuat tenang. Diri mengakui bahwa ada sesuatu yang telah mengganggu sedikit konsentrasi kehidupan yang sedang dijalani. Bukan dalam arti mengganggu untuk tidak nyaman padanya, bukan seperti itu.

Terkadang pun selalu bertanya pada diri sendiri, apakah ini hanya sebuah rasa sementarakah? kagumkah? cintakah? ataukah sayang? karena ia hanyalah selalu menanamkan pada diri bahwa jangan buat sebuah ekspektasi yang tinggi jika pada akhirnya nanti realita tidak sesuai. Harapan bahkan sudah tak tersisa dan ia hanya mengandalkan ketetapan-Nya. Jika sudah seperti ini, sekarang bagaimana solusinya? Sedangkan antar keduanya sama-sama belum bisa memastikan seperti apa kedepannya. Iya kah begitu? Bukankah lebih baik jika tetap berpikir positif? Ke dua belah pihaklah yang paling mengetahui jawabannya.

Masalahnya, sekarang ada pada keadaan hadir titik-titik tertentu yang membuat takut, jangan sampai timbul kesalahan dan pada akhirnya menyesal. Karena sejatinya, tidak ada pembenaran dalam hal apapun untuk saling begitu mengakrabkan diri terlalu jauh. Seperlunya dan sewajarnyalah lebih baik untuk waktu sekarang. Bahkan jika itu berkaitan dengan hubungan pergaulan sehari-hari, maka seharusnya sangat penting untuk diperhatikan. Bukankah Islam sudah menjelaskan sedemikian rupa aturan yang berlaku tentang tetap menjaga batasan? Mari saling ingat saja untuk jangan sampai hanya ingin mengekspresikan rasa namun padahal kenyataannya salah melangkah.

Sungguh terlalu tidak konsisten jika pada akhirnya ketika yang pernah menyampaikan agar jaga batasan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi, diri sendiri menjadi pelaku utama yang sedang diporak-porandakan oleh sebuah kata perasaan. Maka dari itu kembalilah pada-Nya untuk mencari solusi, mintalah selalu petunjuk pada Allah dan semoga dikuatkan sampai akhir. Yakinlah dan juga selalu ingat bahwa jika ia menjadi ketetapan yang Allah takdirkan maka tidak akan pernah tertukar sedikitpun.

Manusia tidak akan pernah bisa menghilangkan naluri kasih sayang pada setiap diri. Karena itu sudah menjadi potensi dasar yang ada pada manusia. Maka kuncinya sekarang adalah bagaimana agar tidak menyalurkan pada jalan yang salah. Sebab, sebagian yang banyak terjadi para puan paling banyak merugi dan hanya terjadi penyesalan begitu rumit jika terbuai. Walaupun, perempuan itu memang benar dominan pada perasaan, maka jangan mulai menyalakan sumbu api jika tidak ingin terbakar karenanya. Tetaplah menggunakan akal pikir sehat yang sudah Allah anugerahkan agar tetap menjaga kehormatan. Teruslah menjaga diri pada setiap langkah yang sudah dijalani, semangat.

Komentar

Posting Komentar