Kepingan Pelita Iman


             Patah hati berada pada rasa kekeringan. Jiwa yang sedang ternodai lumpur kesalahan. Tubuh seakan tak ingin berdamai dalam ketenangan. Namun takkala cinta datang menuju ketaatan. Segala rasa gelisah berujung pada kedamaian.

           Purnama terus berganti bagaikan rentetan cahaya. Meninggalkan jejak namun hanya dalam bayangan. Menelisik jauh ke belakang mengingat cerita yang terpendam. Bahkan tak pernah terpikirkan dalam benak akan sebuah perubahan diri. Roda kehidupan memang selalu berputar. Entah diri sadar atau pura-pura tak sadar, inilah hidup. Dunia yang penuh dengan misteri. Manusia pun hanya bisa merencanakan. Keputusan atau kehendak tetap ada pada Tuhan.

         Saat jiwa merasakan kebimbangan, kebingungan, dan ketidaktahuan dalam perjalanan hidup atau tenggelam dalam dinamika kehidupan. Lentera iman bagaikan petunjuk saat manusia hilang arah. Hidup takkan pernah lepas dari kesalahan ataupun kekhilafan. Jika mengalami hal sulit entah hati atau pikiran tak terarah, sebenarnya di situlah bukti kuasa Tuhan atas diri setiap manusia.

         Bahkan saat manusia punya harta dan tahta seakan sudah merasa sempurna. Namun, sayang seribu sayang itu hanya dalam angan. Coba lihat sekeliling, saat manusia ditimpa musibah, semua hilang tak ada bekas apa pun. Manusia tak ada apa-apanya, seperti kekosongan pada hati yang butuh petunjuk. Sebuah pelita iman itu harus dicari. Ya benar, mencari jati diri itu perlu, seperti yang sedang dilanda gadis itu. Sudah hampir tiga jam saat pulang dari sekolah, tetapi masih betah di pantai.

         “Ahh... kayaknya susah, deh, ini bukan gayaku sekali. Pakai kerudung dan gamis setiap keluar rumah? Oh, Tuhan. Bingung. Bagaimana kalau orang di rumah marah. Ahh... bodo amatlah. Oke, coba saja dulu, kan mau hijrah. Oke fix,” ucap gadis berkacamata itu bermonolog, sendirian di tepi pantai.

         Andi Ika Restiawati. Gadis keturunan Bugis Makassar. Terlahir di pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Gadis yang pecicilan dan juga punya rasa ingin tahu begitu tinggi. Saat berbicara pun sangat kental dengan logat Indonesia Timur, tepatnya logat Bahasa Makassar. Resti, begitulah orang-orang memanggilnya baik di sekolah ataupun di lingkungan rumahnya. Gadis itu masih tetap setia menatap ombak di tepi pantai sambil melirik jam di tangan, rasanya ingin pulang, tetapi enggan untuk bergerak. Matahari senja belum sepenuhnya menghilang. Gadis itu masih terus menatap sekeliling. Mencoba mencari jawaban akan pergolakan batin yang mendera.

           Akhirnya Resti beranjak dari peraduan menatap hangat sinar bola panas yang semakin meredup. Senja yang terhantar keperaduan, menghilang, layaknya jejak yang tersapu tergantikan cahaya kehitaman. Seperti bulan penantian yang hanya dinanti dalam angan. Segala kebingungan hati yang tak pernah terungkap. Perihal jalan hidup pun hanya terpatri dalam lauhulmahfuz Tuhan. Manusia hanya bisa memupuk harapan dalam rencana kehidupan.

            Wahai diri, bagaimana kabar hari ini? Sungguh ku tak bisa menahan gejolak kebimbangan ini. Bagaimana petunjuk itu datang? Rasanya tanpa mencari jawaban seakan benar-benar membuat diri dalam masalah.” ucap Resti dalam hati.

          Serasa semuanya baik-baik saja saat bermasa bodoh. Ah... rasanya tidak. Justru ini membuat diri terlampau pongah, menganggap semua akan baik-baik saja. Sangat naif bukan. Terkadang manusia pun berpikir, Tuhan itu tak adil. Merasa apa yang sudah dipilih hanyalah sia-sia. Padahal, pilihan dalam kehidupan hanya ditentukan oleh diri sendiri. Menelisik jauh kebelakang apa yang sudah dipilih, terkadang tak ingin berada pada pilihan itu. Seakan merutuki diri sendiri, mengapa pilihan itu membuat serasa terjebak. Tak bisa bergerak secara bebas karena ada sebuah aturan.

           Kata orang, jiwa muda yang membara punya rasa keingintahuan begitu tinggi. Segalanya akan dicoba, namun sungguh sangat bersyukur. Tuhan tak menginginkan diri berada pada zona tersebut. Selentingan ganja, berpapan obat penghilang kesadaran, pergaulan bergaya hedonisme yang meronta-ronta ingin terpenuhi dan terakhir menggadaikan keperawanan atas nama cinta. Namun hanya kenikmatan setan berbalut nafsu birahi.

          Sungguh memikirkannya membut diri bergidik ngeri. Ah... tak bisa dibayangkan. Mungkin orang akan berkata bahwa munafik, bisa ya bisa tidak.  Memang benar seakan pernah tergoda akan semua itu, namun pikiran masih waras sayang. Yang benar saja merusak diri, terlebih jika perempuan. Akibatnya kerugian akan ditanggung sendiri. Sangat bodoh bila berpikir sumbu pendek seperti itu.

         Bahkan sebagian di luar sana sangat banyak mengalami hal yang lebih menyakitkan. Rusaknya tatanan kehidupan yang terus merongrong bagaikan ketamakan. Keegoisan berujung keserakahan maut. Merelakan diri mencari ketenangan semu namun sangat berbahaya. Tak dapat pula terelakkan, hari ini kesulitan terjadi di mana-mana. Mengakibatkan pola kehidupan berubah. Walaupun tak semuanya termasuk ke dalam peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tidak hancur keduanya.

           Delapan purnama telah berlalu di tahun kedua bersekolah. Awal dari segala amarah benar-benar di puncak. Marah pada takdir yang seakan memporak-porandakan perasaan. Kecewa pada sebuah kata persahabatan, serasa pengkhianatan di depan mata. Sahabat yang awalnya bersama-sama saling menguatkan untuk berhijrah. Namun, meninggalkan satu persatu di tengah rasa kesepian. Bahkan tak habis pikir ternyata kedewasaan tidak di ukur lewat umur. Boleh saja umur terlihat dewasa tapi pemikiran masih anak-anak. Nol besar, sangat wajar jika Resti benar-benar kecewa. Bagi Resti seperti itu entahlah yang lain.

             “Kak, lantas bagaimana jika kita kecewa pada seseorang. Awalnya dialah yang berusaha mengajak kita pada kebaikan namun di tengah jalan meninggalkan,” ucap Resti di tengah pengajian di mushallah sekolahnya saat itu.

             “Itu sangat wajar, Dek. Manusiawi kita merasakan kecewa. Namun jangan sampai berlarut-larut dan membuat kita mundur. Semua orang memang punya pilihan tersendiri dalam hidup. Tapi jangan sampai memusuhi teman ta’ itu nah.” ucap Aisyah kakak kelas Resti yang mengisi pengajian tersebut.

             “Tapi rasanya itu toh tidak enak sekali, Kak. Satu persatu meninggalkan bahkan sampai sendirian ka’ rasanya sepi.” tambah Resti dengan wajah murung.

            “Coba Resti ingat kembali niat awal ingin memperbaiki diri itu karena apa. Teman kah atau karena Allah. Coba ingat kembali niatnya karena apa. Rasa tidak enak itu juga sangat wajar, teman kelompok kajian ta mungkin berguguran tapi kan masih ada teman-teman yang lain. Dan juga niat kan ikhlas karena Allah bahwa kita hijrah itu untuk mau belajar jadi baik lagi.” ucap Kak Aisyah menambahkan dan setelah itu menutup pengajian tersebut.

             Memang benar kita tak bisa mengontrol orang lain untuk suka. Bahkan saat ada seseorang yang membuat hati kecewa. Serasa bagaikan logika yang tak ingin di terima. Namun salah besar sayang. Ini memang nyata dalam kehidupan sekarang. Jika mengingat akan satu bentuk kekecewaan atau masalah lainnya. Akan ada saja yang selalu merongrong seperti mengusik hati yang sedang risau. Risau akan sebuah jati diri yang melanglang buana bagai burung yang lepas terbang ke udara.

           “Dorrr... nah kan kamu melamun seperti biasa. Memang sedang melamunkan apa saja sih, Dek? Kayak lagi banyak pikiran.” ucap Kak Aisyah tiba-tiba datang ke masjid saat itu.

          “Astaga...  Kak Aisyah bikin kaget saja deh,” balas Resti dengan wajah cemberut.

          “Habisnya Resti saya lihat seperti menahan sesuatu,” ucap Kak Aisyah

          “Kak kasih penyemangat dong biar bisa terus bertahan memegang amanah ini. Kak Aisyah tahu tidak, kalau petunjuk ini bagaikan potongan-potongan kepingan pelita iman yang selalu ku jaga agar bertahan,” ucap Resti.

           “Nah! Ini baru adek ngajinya kaka. Pertahankan yaa. Ingat hijrah itu butuh proses. Bahkan prosesnya mungkin banyak mengorbankan air mata, keringat, waktu atau bahkan sampai nyawa sekali pun. Inilah perjuangan dalam proses hidup seseorang. Jadi semangat.” balas Kak Aisyah sambil mengepalkan tangannya tanda memberi semangat pada Resti.

           Sangat menenangkan jika sudah dapat hidayah dari Tuhan. Berada pada kehidupan yang lebih terarah lagi. Tak bingung atau bimbang saat menjalani hidup. Mengingat kehidupan masa lalu seperti abu-abu akhirnya terang benderang. Jelas yang mana kebenaran dan kemaksiatan. Inilah perjalanan hijrah hidup dalam kehidupan seperti sepotong kepingan pelita iman.

Saat cinta pada Tuhan sudah merasuki relung hati seratus persen. Mengkristal bagaikan bongkahan es yang dingin. Maka jangan sekali-kali padamkan dengan api kedustaan. Tetaplah  pupuk cinta itu hingga tak tergoda oleh zaman. Jagalah iman sepenuh hati agar terus tertambat pada Tuhan.

 

Quotes:

“Menulis, menulis dan teruslah menulis. Agar engkau bisa mengambil peran dalam menyebarkan peluru kebaikan lewat aksara.”

 

 

Komentar

  1. Tetap Semangat ... Semoga Hijrahnya mengantarkan berkah dari Allah. AlhamduliLLah saya ketika meninggalkan beberapa hal buruk Allah panggil Umroh, terlebih lagi tiket balik saya ekonomi namun Qodarullah saya dapat menikmati kelas bisnis tanpa biaya apapun. Ibarat kata kita pergi ke rumah seseorang dengan ojek ketika balik kita diantar pakai mobil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. MaasyaAllah, Barakallahu fiikum. Tetap semangat berhijrah karena lillahi ta'ala.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batasan Korelasi

Jatah Hidup

Jalur Titik Awal