Tipuan Fana
Luruh tak bertuan sudah hati ini, merenggut apa saja yang sudah hancur lebur. Menyimpan berbagai onak duri yang begitu membelit. Seuntai harapan pun seakan benar akan punah.
Akankah jiwa yang penuh hina ini bisa kembali?
Dapatkah Sang Pemilik Jiwa memberikan ampun?
Benarkah ingin benar-benar kembali? Ataukah hanya ingin punya jejak setitik harapan suci?
Lorong demi lorong kesunyian terus menghiasi seakan menghisap sampai tidak bersisa. Sejumput canda tawa seakan sirna ditelanjangi keterpurukan.
Mata buta, telinga tuli, dan hati bersikeras terbalut noda hitam. Gelisah berada dalam gelombang pertimbangan. Hilang arah tujuan, peta pun sudah merobek cahaya tergantikan kegelapan.
Luka lama belum kering seutuhnya, kembali menyapa luka baru. Inginnya menenggelamkan diri saja, hilang dari peredaran dunia.
Namun, disadari masih ada setitik akal waras dalam pikiran.
Diri tidak sebodoh dan melemah begitu saja di depan masalah hidup. Walaupun saja masih sadar juga bila diri ini bergelimang hina dan nista. Banyak kecacatan sana sini, ingat seperti tambal sulam yang rusak.
Komentar
Posting Komentar