Fakta Rasa
Sepanjang perjalanan ia hanya bisa kembali merapalkan doa. Sungguh seharusnya ia berterima kasih pada Tuhan, sebab sudah menciptakan suasana yang menenangkan hatinya.
Bahkan kalau dipikir-pikir terlalu banyak nikmat dari-Nya untuk setiap hamba. Terserah apa hamba tersebut yang tahu diri ataupun tidak.
Sudah banyak waktu yang terlewatkan tetapi ia masih saja tidak bergeming. Begitu pasrahkah ia pada segalanya? ataukah mencukupkan diri pada sesuai apa yang teryakini? menyebalkan jika selalu berada pada jalan buntu.
Apakah ia menyesal atas apa yang diluar dari kendalinya? hei... bukankah Tuhan tak akan mengambil sebuah pertanggungjawaban diluar kendali?
Astaga sungguh perjalanan ini akan bosan bila hanya lurus-lurus saja. Sangat indah jika bergelombang atau jika bisa berkelok-kelok agar punya seni.
Bahkan Tuhan saja menciptakan dua tempat sebagai tujuan akhir. Hamba saja yang bebas memilih, apa ingin beriman atau tidak. Sejatinya seperti inilah kehidupan, ada baik dan buruk.
Tiap-tiap hamba sangat berbeda titik ujiannya. Tergantung dimana titik kelemahan yang akan Tuhan putuskan.
Lantas bagaimana dengan ia yang paling banyak ingin meredamkan sedikit api rasa? semakin diredam bukan hilang tetapi semakin mengakar tumbuh subur. Dua hari yang lalu ia begitu tidak mengerti akan jalan pikiran dan hatinya yang mengalami perbedaan.
"Mengapa harus berhenti di dekatnya?"
"Hei jalan pikiran ayolah jangan mau dikelabui."
"Dasar!!! pada faktanya kau tak bisa melawan rasa, ingat siapa yang paling dominan saja."
"Baiklah lebih baik ia pamit undur diri dulu."
"Silakan tidur jika faktanya besok hari Senin."
Komentar
Posting Komentar