Memeluk Rasa
"Kesalahan akan ketidakdewasaanlah yang membuat semuanya jadi retak. Ingin disatukan namun tak lagi sama. Segala sakit, kecewa, marah, ketidakberdayaan dan rasa tidak bertanggungjawab, semua itu peluklah dengan ikhlas."
Namaku Caca, tapi kalian jangan pernah memanggil dengan sebutan gula-gula caca, sungguh aku akan menendang kalian sampai keujung dunia, haha maaf hanya bercanda. Bayangkan saja mana bisa diri ini melakukan itu, ikut beladiri saja seakan benar-benar tidak ada dalam kamus kehidupanku. Terlahir bungsu dari empat bersaudara, sedari kecil semua kakak laki-laki akan pasang badan bila diri ini diganggu oleh teman-teman sepermainan. Sang adik perempuan manja kesayangan. Sangat beruntunglah adik bungsu.
Kata orang, jiwa muda yang membara punya rasa keingintahuan yang begitu tinggi. Segalanya akan dicoba, namun sungguh sangat bersyukur, Tuhan tidak menginginkanku berada pada zona tersebut. Selentingan ganja, berpapan-papan obat penghilang kesadaran dan yang terakhir menggadaikan keperawanan atas nama cinta namun hanya kenikmatan setan yang berbalut nafsu. Sungguh memuakkan. Mungkin orang akan berkata bahwa aku munafik, bisa ya bisa tidak. Memang benar aku pernah tergoda akan semua itu, namun pikiran masih waras, yang benar saja merusak diri, terlebih aku perempuan, kerugian ditanggung sendiri, sangat bodohlah jika berfikir sumbu pendek seperti itu. Sungguh pemikiran yang sangat cerdik.
Seperti sudut pandangku pada setiap keluarga orang lain, aku juga ingin punya keluarga yang utuh, penuh ketenangan, saling melengkapi, bertebar kasih sayang. Namun sayang seribu sayang ternyata itu hanya mimpi dalam anganku. Hancur, retak tak bersisa. Tapi setidaknya aku tak termasuk peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga pula, tidak hancur kedua-duanya.
Januari 2015, awal segala amarah benar-benar dipuncak. Marah pada takdir yang seakan benar-benar mempermainkan perasaan. Kecewa, muak, benci sudah menggerogoti pada sosok cinta pertama, papa maaf hatiku retak, seakan rasanya hancur. Cinta pertama? Omong kosong. Buyar seketika. Bahkan diriku tidak habis pikir ternyata kedewasaan tak diukur lewat umur, boleh saja umur terlihat dewasa tapi pemikiran masih anak-anak. Nol besar. Sangat wajar bukan, seorang anak benar-benar kecewa. Bagiku seperti itu entahlah yang lain, terserah mau berpendapat bagaimana.
"Dasar anak kurang ajar, sudah berani kamu hah!!!" Teriak Papa pada kakak keduaku, menampar pipi dan meninggalkan bekas kemerahan, aah pasti sakit sekali.
"Kenapa berhenti Papa, tidak sekalian bunuh saja. Masih belum cukupkah setelah kemarin sudah memukulku juga? Kenapa papa yang marah, bukankah seharusnya kepala keluarga yang menafkahi anak-anak dan istrinya? Bahkan untuk membayar sewa rumah pun, mama yang selalu banting tulang, tidakkah papa merasa malu? Maaf jika kami semua akhirnya melawan padamu, dulu kami semua tidak tau apa-apa, tapi tidak untuk sekarang, silakan pergi dari sini jika tidak ingin bayar uang sewa rumah." Tiba-tiba kakak pertamaku datang mencerca dengan berbagai pertanyaan, seketika aku terkejut saat kakak pertamaku ingin mengusir papa, keberanian dari mana itu, sepertinya sekaranglah waktunya permadani ini rusak seketika. Papa pun melangkah jauh keluar rumah, tak ada kata-kata, hening, tak ada kata pamit. Pengecut. Pergi meninggalkan semuanya serta hancur tak bersisa, hanya rasa kecewa, ketidakberdayaan yang tertinggal.
"Akhhh.... Mengapa kejadian itu muncul kembali? Akhhh... benar-benar memuakkan, sial." umpat Caca dikamar dalam kondisi keringat bercucuran di pelipis, sepi sedang sendirian dirumah. Menatap sekeliling, tersadar, ternyata hanya mimpi.
Keren 🔥🔥
BalasHapussalam literasi, semoga bermanfaat blog ini🙏
HapusInspiratif sekali👏
BalasHapusSemoga bermanfaat
Hapus