Bagai Bara Api

Seolah berusaha terus mengutuk atau mungkin juga merutuki, mengapa begitu lemah pada sebuah ingin. Hati selalu berisik serta gelisah menimbulkan rasa tidak nyaman. Maunya pikiran harus dan wajib terkontrol pada hati, artinya sejalan. Tapi mengapa rasa di hati mempermainkan logika, seakan tidak sependapat. 

Bertahan pada posisi menjaga jarak aman memang tidak mudah. Ingin membiarkan begitu saja bagai mengalir seperti air, ikut arus. Tetapi, sungguh tidak bisa seperti itu, bukankah dalam Islam punya aturan. Tentang interaksi antara lawan jenis yang sejatinya tidak boleh bermudah-mudahan.

Bertahanlah wahai jiwa-jiwa yang seperti menggenggam erat bara api. Sebuah perumpamaan tentang makna prinsip. Bagai mengakar kuat dan tahan banting dalam pondasi tiang iman. Janganlah sampai hanya karena sebuah ingin, lantas meremehkan dan mengabaikan arti perintah Tuhan.

Tentang munculnya rasa ketertarikan, bisakah dikatakan itu cinta atau kasih sayang, ataukah hanya sebatas rasa penasaran? Jadi pada kenyataannya bila itu pasti, jelas terang benderang artinya, maka sejatinya yang ada adalah cinta akan datang dengan keadaan suci dan mulia. Janganlah sampai di kemudian hari tercoreng sebab akan menyesal pada akhirnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batasan Korelasi

Jatah Hidup

Jalur Titik Awal