Debu Semesta

Aku sadar bahwa kembali pada jalur garis perjuangan dakwah Islam kaffah membutuhkan banyak pengorbanan. Salah satunya yang paling dekat adalah berkorban untuk memprioritaskan dakwah Islam diatas segala hal. Menjadikan Islam betul-betul berada pada poros hidup bukan hanya pada sisa-sisa waktu letih belaka. 

Terlalu pongah dan angkuh diri ini yang katanya begitu menginginkan dan merindukan menjadi generasi penakluk peradaban Islam. Bercita-cita menjadi bagian dari generasi yang ingin berjuang mengembalikan dan menegakkan kembali agar Islam bisa diterapkan di segala aspek kehidupan.

Nyatanya lagi aku sadar dan begitu sungguh tertampar hingga tersungkur pada akhirnya. Melawan hawa nafsu diri sendiri saja sangat begitu payah. Masih berada pada lingkaran mengurus urusan pribadi saja terpontang-panting. Lantas bagaimana dengan niat mau mengurus umat. Wahai diri yang begitu beku pada kebenaran. Sudah cukup terlelap dari buaian gemerlap dunia yang penuh dengan tipuan ini. Bangkitlah dan segera perbaiki dirimu! Jangan terus menerus fokus pada masalah pribadi yang tidak akan pernah ada habisnya.

Menjadikan Islam sebagai poros hidup dalam kehidupan ini adalah bagaimana setiap deru nafas harus berlandaskan Islam bukan yang lain. Wahai diri janganlah begitu malu menampakkan identitas sebagai seorang muslim. Bukankah sekarang semua serba tidak sedang baik-baik saja. Lihat sekitaran kanan kiri depan belakang, benarkah Islam sudah diterapkan dari segala arah? Pada kenyataannya bisa dilihat jawabannya tidak. Sungguh miris, lantas inikah perjuangan yang diharapkan? 

Katanya mau masuk surga, katanya mau mati syahid, katanya mau hidupnya berkah, katanya mau menjadi Sholeh/Sholehah, katanya mau menjadi generasi pejuang Islam, katanya mau Allah ridho dengan kehidupannya, tapi kenapa dan mengapa? Kesibukan-kesibukan seperti apa yang dijalani? Okelah persiapankan dunia begitu cerah benderang dicita-citakan, direncanakan sedemikian rupa, berusaha semaksimal mungkin. Jadi pertanyaan terakhir bagaimana kabar persiapan akhiratnya? Sudah berusaha jugakah semaksimal mungkin? Kembali aku sadar diri. Dasar, aku debu semesta yang tidak sadarkan diri menghirup udara secara gratis di bumi Allah tetapi tidak tahu cara berterima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batasan Korelasi

Jatah Hidup

Jalur Titik Awal