Persiapan Hakiki
Berulang kali jari jemari terus menari di atas keyboard sebuah ponsel yang katanya begitu pintar dan sangat canggih. Merangkai kata demi kata tapi pada kenyataannya aku menghapus kembali. Berulang terus begitu saja hingga aku sadar sudah sangat begitu jarang menulis di blog ini.
Pada akhirnya tersadar, bahwa aku seolah bisa menyimpan momen hanya dalam ingatan ataupun lewat gambar. Tetapi fakta berkata tidak juga. Bagiku paling tepatlah ketika diabadikan dalam bentuk sebuah tulisan. Bisa ya juga mungkin tidak, seperti jika para mereka diluaran sana tak ingin melangkah pada rantai kata.
Sebenarnya bukan jarang menulis, tepatnya, tetapi semakin waktu bergerak maju seolah berjalan mendekat, aku mulai sadar akan sesuatu hal. Diri ini tidak boleh terlalu jauh larut dalam sebuah rasa yang belum pantas. Aku sadar karena bertipe melankolis, apakah benar begitu ataukah hanya diri seolah-olah mengklaim melankolis saja? Entahlah terserah.
Usia semakin bertambah tapi juga di satu sisi berkurang pada waktu yang bersamaan. Aku sadar bahwa proses kematangan berpikir itu mulai terasa jika mau belajar. Lebih tepatnya memahami dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengendalikan hati dan pikiran agar tidak terjerumus ke hal yang hanya akan jadi sesal di kemudian hari.
Seperti hitungan detik, menit, jam bahkan hari terus berlalu begitu saja tanpa meminta izin. Bulan berganti tahun melaju tak ingin menunggu siapa pun. Sedetik saja ingin diberi kesempatan untuk berhenti nyatanya tidak bisa. Jika sudah seperti ini keadaan, lantas siapalah diri ini? Akankah merugi atau berakibat fatal bin celaka. Astaghfirullah, na'uzubillah.
Diri begitu naif sekali, bahkan terkesan sangat ceroboh lagi dilanda kebingungan arah. Katanya, selalu semangat untuk menyelesaikan skala prioritas tetapi pada kenyataan berbanding terbalik. Inikah keadaan sesungguhnya yang diharapkan? Aduh dasar diri ini, sangat malang nasib hamba jika selalu begini.
Aku sadar bahwa diri masih sangatlah begitu jauh dari kata baik. Aku, semakin hari demi hari mengakui jika tidak ada apa-apanya. Aku hanya hamba yang Allah titipkan mungkin beberapa kelebihan dan selebihnya begitu sangat banyak kekurangan-kekurangannya sana sini.
Tiap hari belajar rasanya semakin membuatku sadar bahwa aku begitu banyak tidak mengetahui segala hal. Aku bersyukur, Allah masih memberikan kepercayaan pada diri sehingga dititipkan sedikit ilmu agar tahu sedikit tentang agama. Ya benar sekali, aku semakin cinta pada Islam sampai akhirnya paham jika tanpa-Nya. Maka aku bisa dipastikan tidak akan pernah selamat dunia akhirat walaupun sejengkal.
Seperti pada segala perencanaan hidup, manusia selalu membuat target dan mempersiapkan dengan matang. Urusan dunia begitu di atur sedemikian rupa agar sesuai skala prioritas. Maka bolehlah kita bertanya pada diri sendiri, bagaimana dengan persiapan akhiratnya? Sudahkah juga diatur sedemikian rupa agar sesuai skala prioritas akhirat? Sangat disayangkan karena masih minim.
Inilah fakta, salah satu contohnya saja terkadang kita begitu perhatian terhadap siapa kelak yang menjadi pasangan hidup. Kalau ideal pasti semua menginginkan punya pasangan shalih atau shalihah. Tetapi ada yang terlupakan, kita tidak bercermin pada diri untuk memperbaiki diri. Mungkin belum bisa diri dikatakan shalih atau shalihah. Tetapi minimal kita mau berusaha semaksimal mungkin setiap hari menuntut ilmu agama agar bisa menghantarkan pada jalan kebaikan. Jangan mudah ter-distraksi, fokus pada skala prioritas!
Komentar
Posting Komentar