Stop! Jangan Di Baca!
"mengalah bukan berarti kalah, melawan bukan berarti menan+G"
Kalimat di atas hanyalah salah satu dari sebuah kondisi-kondisi dalam bumbu-bumbu kehidupan. Ada yang tidak setuju dengan kalimat sebelumnya? Ya silakan saja, terserah dari para pembaca yang budiman.
"bukan bapak atau ibu budiman yaa haha garing krik krik krik skip sajalah"
Sekali lagi dipersilakan semuanya mau berargumentasi bagaimana. Intinya ini hanya salah satu sudut pandang dari sekian banyaknya arah panah-panah "mindset".
Jika ingin berpikir simpel dan sederhana maka jangan pedulikan siapa saja yang mungkin saja membuat diri tidak merasa nyaman, aman, damai dan sentosa.
"stop! kek lirik kampanye oiii"
Entahlah bila itu rasanya seperti tersinggung, tidak enak di hati ataupun yang lainnya. Cukup diam atau juga bisa mendiamkan sejenak otak untuk tidak berpikir yang berat.
"santuy dulu"
Jaga kesehatan berpikir ya dan semoga tidak terkontaminasi oleh istilah "toxic" dari siapapun. Biarkan saja siapapun mereka yang toxic tapi diri sendiri jangan toxic.
"ehh btw bukannya kalau gini tetap sama-sama toxic juga ding, Auh ahh gelap, malaszzz mikirnya pening pala ku lama-lamaš¤£"
Bahkan terkadang, mungkin orang yang tidak secara langsung terlibat dalam perkara di atas ini hanya bisa berbesar hati untuk menerapkan jika tertimpa juga atau mungkin juga sebaliknya, entahlah terserah.
Lantas bagaimana dengan diri bila terlibat langsung? Jawabannya mungkin ada beberapa, tergantung cara berpikir dan cara sudut pandang dari arah mana yang kita inginkan.
"satu diam"
"dua diam"
"tiga diam"
"langkah empat"
"lima"
"enam"
dan seterusnya ya terserahlah mau bagaimana itu tergantung dari sudut pandang kalian semuanya. Mengapa saya harus merepotkan diri memikirkannya, saya saja juga sudah pusing dengan ke-riweh-an isi kepala sendiri.
"jangan curhat"
Sudah ada di judul tulisan ini loh yaa, karena saya sedang berbaik hati maka akan di ulangi.
"STOP"
"JANGAN DI BACA"
oke sudah dulu tulisan ini, salam literasi salam banyak baca dari saya yang entahlah meng-klaim diri melankolis meramukata tapi tidak "ngeh" bagian mana yang melankolis, kalau meramukata ya bisalah sedikit cap diri jadi tukang "jamu" tulisan arah ngalor ngidul tapi tak pernah sampai ke gunung kidul.
"hadehhh"
"cukup"
"apaan sih nih tulisan sok tahu"
"tidak nyambung"
"sok menggurui"
"huuuh"
"diam nggak"
"iyeeeeeeee"
"aku yang diam kalau gitu"
"SKIP"
semoga terhibur dan tetap tersenyum ;)
Komentar
Posting Komentar