Memorandum Aksara

Biarkan waktu bergulir pada kesempatan ini ia mengutarakan segala apa yang terpikirkan. Meluapkan dengan senang hati tanpa ada yang terlupakan. Cukup membacanya saja dan tolong jangan mengomentari. Apalagi sampai membahas atau mungkin menyinggungnya di kehidupan nyata (terlalu kepedean juga ia haha #abaikan), karenanya ia akan sangat begitu tidak nyaman jika itu terjadi. Sekarang ya maunya begini saja, terserah nanti jika kondisi sudah berubah. Iya kan? Iya kan saja langsung (no debat haha).

Bisakah kita hanya berbalas dan bercerita cukup lewat tulisan? Kau dengan ceritamu, aku dengan ceritaku. Cukup membaca dalam diam, terserah mau menafsirkannya dari mana atau bagaimana. Pada intinya, aku ingin menuliskannya saja, anggap saja baik kau atau aku bebas bercerita apa saja tapi tetap dalam batasan. Paham kan dengan maksud ku ini? Jika tidak, silakan memahami dengan tafsiranmu sendiri.

Aku sering bertanya-tanya pada lukisan pagi juga cahaya peraduan tentang sebuah rasa. Namun, aku sadar karena keliru bertanya pada apa. Seharusnya yang paling tepatlah jika aku mengadukan pada Dia, Sang Pemilik Rasa. Bukankah seharusnya dan begitulah yang sebenarnya terjadi. Tempat mengadukan semua hal hanya pada Allah semata.

Aku ingin berusaha mengenal lebih jauh atau bisa juga dikatakan lebih dekat dengan segala hal yang melekat padamu. Misal, seperti mengenai hal apa saja yang disukai dan mungkin juga hal yang kurang disukai. Terkesan sederhana mungkin tapi begitulah yang terjadi, aku lebih menyukai hal simpel dan sederhana. Bukankah terkadang ada sesuatu yang seperti itu tetapi banyak mengajarkan sebuah arti. Hingga kini segala hal yang dikabarkan tentangmu sepertinya masih dalam proses mengenal tersebut. Semoga Allah melancarkan segala niat baik tersebut sampai pada akhirnya nanti ada ketetapan terbaik-Nya.

Sampai detik ini ia masih tetap sama, beribu-ribu bahkan hingga berjuta-juta keping rasa yang terpilih masih tetap sama. Ia mungkin sedang merasa pada sebuah titik yang namanya rasa. Namun diantaranya ia lebih memilih tidak mengungkapkan secara langsung. Karena lebih memilih merangkai kata untuk mengekspresikan segala rasa yang ada. Sebab, sedang meyakini bahwa melangitkan segala prosesnya dalam setiap doa adalah kunci terbaik. Pada akhirnya, ia menitipkan harapan hanya pada ketetapan Allah yang terbaik diantara yang terbaik.

Setiap manusia hanya perlu berikhtiar dan berusaha pada segala prosesnya. Jadi, tetap siapkan sebagian ruang untuk melapangkan dada bila Allah memberikan ketetapan yang berbeda dari yang diharapkan. Karena sejatinya beginilah kehidupan dunia berjalan, ada hal yang sesuai target manusia dan ada pula yang beda. Maka, niatkan segalanya hanya pada Allah SWT semata.

Nyatanya seperti inilah hidup, terkadang ada banyak hal yang sering kita targetkan, ibarat merangkai bunga. Jika kita ingin fokus pada target bukan hanya sekadar dipikirkan. Jadi, antar ke dua belah pihak "saling" bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dikatakan. Insyaallah khair, semangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Batasan Korelasi

Jatah Hidup

Jalur Titik Awal