(Bukan) Siapa-Siapa
#part1
Aku sengaja membungkam diri sendiri pada beberapa waktu-waktu tertentu. Diam, membisu dan irit bicara atau sekadar sedikit menepi dari keramaian. Sepertinya begitulah kira-kira kehidupanku ini berjalan. Sangat lambat dan pelan menapaki perjalanan seperempat abad ini yang sudah mulai lebih beberapa bulan tepatnya. Kenangan masa lalu sebagian terlihat buram dan sebagiannya sangat begitu jelas tergambar. Sayangnya, justru kenangan bahagia itulah yang sedikit kabur dalam pandangan. Apa aku salah jika berkata sial sebab kenangan buruk jelas terpampang nyata dalam retinaku.
Omong kosong belaka kata trauma itu, aku tidak ingin terbakar karenanya. Mengapa aku harus kalah dan mengalah? tidak akan aku biarkan. Benar bahwa egoku sepertinya tinggi, bahkan pada diri sendiri. Begitulah awal-awal sudut pandangku menatap hidup, dari kecil sudah berat akan permasalahan hidup dari berbagai arah. Tapi, aku bungkam dan menelan semuanya sendirian. Benar-benar ber-kamuflase diri ini, memuakkan.
Jadi teringat pada salah satu buku yang pernah ku baca. Aduh, nama penulisnya terlupakan pada ingatanku, padahal itu buku pertama yang ku beli di tahun 2015 setelah beberapa bulan menabung. Judul buku itu kurang lebih seperti ini "Hati Menangis, Bibir Tersenyum: Pilihan Hidup Yang Tidak Semestinya Terjadi" astaga, apa sekarang aku menjalani hidup seperti itu? Lagi-lagi bukan aku sendirian kan yang seperti itu, sebagian di luaran sana mungkin begitu juga. Baiklah lupakan saja dulu masalah orang lain. Fokus pada inti deretan kalimat selanjutnya saja.
Terkadang aku bingung mau bercerita bagaimana dan dari sudut pandang yang mana akan ku ceritakan. Sebab, diri tidak berada pada didikan otoriter dan super ketat. Namun, tidak juga dikatakan bebas sebebas-bebasnya. Mungkin bisa dibilang pertengahan, sebab jika izin juga boleh-boleh saja asal pintar jaga diri karena katanya aku seorang perempuan. Akan sangat rugi jika aku menghancurkan diri sendiri, bagiku itu adalah mimpi paling terburuk.
Terlahir sebagai seorang anak perempuan pertama dalam keluarga, waktu kecil aku sedikit tidak menyukainya. Bisa dibilang perbandingan lima puluh - lima puluh, mungkin. Sebab, tiga adikku seolah jadi tanggung jawabku yang begitu berat. Di usia sekarang kadang heran juga mengapa waktu kecil punya pemikiran seperti itu, entahlah juga asalnya dari mana. Apa karena kata orang-orang bahwa anak pertama yang punya adik selisih berdempetan maka ia akan "didewasakan oleh keadaan" mungkin bisa ya bisa tidak.
Contoh saja jika pergi bermain, mereka akan ikut. Di satu sisi sebenarnya aku juga menyukai karena adik-adik adalah teman bermain juga. Salahnya dari sudut pandangku saja mungkin karena merasa ada pilih kasih. Misalnya, mengapa aku yang harus dibawa ke kampung? Seolah dijauhkan dari keluarga sendiri, apakah hanya karena kakek ingin aku sekolah di kampung? Ahh sudahlah, diri ini tak pandai mendeskripsikan jika bercerita lebih jauh. Lupakan saja.
Komentar
Posting Komentar