Lagi-lagi ia Diam
ia kembali menertawakan diri sendiri
namun, tak lama berselang
raut sedih itu muncul kembali
seolah alam semesta mempermainkannya
apakah sudah tak ada kesempatan kedua?
katanya,
nasi sudah menjadi bubur
hilang sudah waktu pelipur
hanya tertinggal jejak lara
ia masih tetap tak mau bergerak
walaupun pikiran sudah semrawut
tapi lagi-lagi ia diam
mau bercerita?
silakan jika itu sedikit menghilangkan ruang sesak di dada
ataukah cukup membisu menatap matahari terbenam
tidak!
kali ini ia harus sadar
jika pilihan pertama bukan takdir
maka harusnya ia hadirkan pilihan kedua
bagaimana?
apakah ia mau bersepakat
hanya ia dan Tuhan yang tahu
seperti apa akhir keputusan
Komentar
Posting Komentar